la la land
Entertainment

Review La La Land, Kisah Cinta Dua Dunia

Genre musikal tak begitu banyak punya penggemarnya di antara film-film lainnya. Namun bukan berarti tidak ada film bagus bergenre ini. Across The Universe misalnya, yang menginterprestasi Lagu Beatles atau Velvet Goldmine, sebuah film tentang rocker androgini yang memalsukan kematiannya. Atau bahkan Anda penggemar film Chicago? Moulin Rouge? Berikut ini review La La Land untuk Anda yang belum sempat menontonnya.

La La Land lahir dari pemikiran Damien Chazelle. Yap, dia adalah sutradara sekaligus penulis film ini. Kalau Anda belum pernah dengar namanya, film sebelumnya Whiplash berhasil merebut 3 Oscar yang salah satunya adalah Best Supporting Actor untuk JK Simmons.

Film ini ditulis tahun 2010 namun tidak ada satupun studio yang mau membiayai produksinya. Setelah kesuksesan Whiplash di tahun 2014, project ini akhirnya didanai oleh Summit Entertainment. Film yang diputar premiere di Venice Film Festival untuk kemudian dirilis tanggal 9 Desember 2016 di US ini berhasil meraup $269 juta. Padahal pembuatannya cuman $30 juta.

Kembali ke La La Land, film ini bercerita tentang Mia (Emma Stone), on-studio barista yang bercita-cita menjadi aktris serta Sebastian (Ryan Gosling), pianis jazz yang idealis. Keduanya bertemu di sebuah jalan layang LA yang macet secara tak sengaja. Kesan pertama benar-benar tidak begitu menggoda bagi keduanya. Ditimpali oleh lagu “Another Day of Sun”, dan one take shoot yang membuat adegan pembuka ini menyegarkan bagi penonton.

Kemudian keduanya bertemu kembali di sebuah cafe Jazz di mana Sebastian sedang berimprovisasi meskipun sudah dilarang oleh bossnya yang diperankan oleh JK Simmons. Bisa ditebak, Sebastian dipecat. Mia yang sedang melihat ingin memberikan semangat, namun Sebastian yang dingin menabraknya.

Jodoh tidak kemana. Beberapa bulan kemudian mereka bertemu di sebuah private party dimana Sebastian mulai “jual diri” dengan menjadi pianis band pop 80’an. Pertemuan inipun berakhir dengan jalan bareng mencari mobil di sebuah bukit pada sore menjelang malam. Nuansa emas, pink dan biru perpindahan golden hour ke blue hour menjadikan adegan ini hopelessly romantic. Timpahan  A lovely Night yang dinyanyikan oleh Ryan Gosling dan Emma Stone terasa membius.

Kisah berikutnya adalah lantunan drama di antara ajaibnya kota Los Angeles dimana Mia dan Sebastian saling mendukung untuk mencapai impiannya.

Di barisan akting, Ryan Gosling dan Emma Stone berhasil menunjukkan chemistry yang luar biasa. Ya, meskipun ekspresi wajah cool Ryan Gosling selalu sama dalam beberapa filmnya sebelumya. Damien Chazelle berhasil membuat penonton duduk manis di dalam bioskop menikmati kesyahduan, kangen, tawa dan haru sepanjang film. Menikmati LA berpalet pink dan biru karya DOP Linus Sandgreen. Menurut kami, film ini adalah tribute pribadi Damien untuk film-film musikal Hollywood jaman dulu.

Tentu saja emosi yang ada di film akan terasa kurang tanpa bantuan Justin Hurwitz yang menjadi komposer film La La Land. Dengarkan lagu City of Stars yang penuh pengharapan sampai denting opening piano dari Sebastian yang terluka saat memperdengarkan lagu “Epilog”, merangkum semua mimpi bersama Mia dari awal sampai akhir. Musiknya berangsur gembira kemudian menjadi duka dan luka pada akhirnya. Kemudian kita menyadari bahwa, kadang kenyataan tak berakhir seperti rencana semula. Dan penontonpun keluar bioskop dengan muka sembab. Kalau kata millenials: Kita saling cinta tapi tak mungkin bersama.

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top