sumba
Lifestyle

Let’s Get Lost : Sumba, Bucket List Para Petualang

Sumba, sebuah destinasi wisata yang patut untuk dikunjungi. Dan bisa menjejakkan kaki di padang rumput Sumba yang saat ini sudah masuk dalam bucket list banyak orang tentu saja sangat menyenangkan. Tak hanya traveller garis keras yang ‘hidup’ dengan mantra lets get lost, tanah Sumba juga menjadi impian petualang pemula. Apalagi setelah savana dan langit biru Sumba menjadi setting sempurna film nasional Pendekar Tongkat Emas dan film Marlina The Murderer in Four Acts. Berikut ini aktifitas yang Anda bisa lakukan ketika mengunjungi Kabupaten Sumba Barat yang beribukota di Waikabubak.

Kampung Adat Di Kota

Kota Waikabubak dikenal sebagai kota Seribu Kampung. Betapa tidak, di dalam kota yang dihuni oleh 26 ribu jiwa ini bertebaran kampung tradisional yang dihuni penganut agama Marapu, agama lokal yang sangat menghormati arwah leluhur sebagai penyambung antara Marapu (Yang Maha Tinggi) dengan manusia yang masih hidup.

Saat Anda berkunjung di Waikabubak, sempatkan mampir ke kampung Tarung dan Waitabae yang terletak tepat di tengah kota, tak jauh dari pasar impres Waikabubak. Memasuki kampung ini, kita serasa kembali ke masa lampau. Rumah-rumah adat yang terbuat dari kayu, bambu dan beratap ilalang berdiri berderet-deret mengelilingi natara podhu (pelataran tempat upacara adat), makam megalitik, rumah besar (kuil Marapu), juga tiang andung (tiang pancang yang dulu digunakan untuk menggantung kepala musuh yang kalah perang).

 

sumba

Di kampung adat ini, pelancong juga bisa membeli aneka kerajinan tangan yang dijajakan ibu-ibu dan anak-anak di berada rumah bambu mereka. Tenun, anyam-ayaman seperti tas dan dompet juga gelang dan kalung manik-manik dengan bandul mamoli (berbentuk menyerupai segiempat jajaran genjang dengan lubang di tengah yang menggambarkan rahim sebagai lambang kesuburan). Tentu saja, harga di kampung adat ini sedikit lebih mahal ketimbang di pasar-pasar, namun uang yang kita keluarkan itu sepadan dengan tangan-tangan terampil dan penuh dedikasi yang membuatnya.

Layaknya kampung adat, berbagai hewan piaraan hidup rukun dengan penghuninya. Jadi, jangan resah kalau ketika berjalan-jalan di jalanan setapak berbatu, kita akan berpapasan dengan anjing-anjing yang jinak, anak-anak babi yang berlari-larian juga kadang-kadang kuda. Jangan lupa, kenakan sepatu nyaman dan tertutup kalau bisa jadi, Anda akan bertemu ‘ranjau’ kotoran hewan di sana-sini.

 

Pasola

Ini adalah upacara adat yang sudah tenar secara internasional. Pasola yang berasal dari kata sola atau hola (tombak kayu), merupakan tradisi perang adat di mana dua kelompok penunggang kuda saling berhadapan kejar mengejar seraya melempar kayu ke arah lawan. Pasola diselenggarakan untuk menyambut musim tanam dengan penetapan waktu yang dilakukan oleh ketua spiritual agama Marapu yang disebut rato. Biasanya tanggal pelaksanaan berdasarkan perhitungan bulang gelap dan bulan terang. Sudah turun temurun, dalam perang pasola tidak ada pihak yang akan menuntut secara hukum jika sampai ada korban jiwa. Uniknya lagi, kampung yang kalah ternyata dianggap akan mendapatkan panen yang berlimpah.

Nyale

Nyale adalah nama cacing laut berwarna-warni yang bisa dimakan. Upacara nyale terjadi pada dini hari sebelum pasola dilaksanakan keesokan harinya. Malah, tanpa keluarnya cacing nyale di pantai Wanokaka, maka pasola tidak akan ada.

Sesuai perhitungan para rato, pada dini hari nyale akan memenuhi pantai. Dan saat itulah, para warga dan wisatawan akan berbondong-bondong ke pantai dengan membawa ember-ember untuk mengambil nyale. Warga percaya, jumlah nyale yang banyak yang segar (tidak patah saat diambil) menandakan hasil panen yang melimpah. Nyale yang kotor dan saling menggigit memandakan hama tikus dan nyale yang gampang busuk berarti hujan akan berlebihan. Bila nyale tidak muncul pada malam itu, maka berarti akan datang kemarau panjang yang juga musibah kelaparan.

Tenun

Tenun Sumba merupakan kekayaan budaya yang sungguh memikat mata. Tenun biasanya dihasilkan oleh para wanita dan dikerjakan siang hari setelah pulang dari sawah atau ladang. Ragam hias tenun Sumba berbentuk mamoli dan batu kubur yang berbentuk empat persegi panjang. Selain didapatkan di kampung adat, tenun bisa diperoleh di pasar Waikabubak dengan harga yang lebih bersahabat.  

CARA MENUJU SUMBA

Ada banyak cara menuju Sumba. Jika Anda dari Jakarta, cara termudah adalah dengan naik pesawat yang nantinya akan transit di Denpasar, Bali atau melalui Kupang (KOE).  Kemudian dilanjutkan penerbangan menuju Bandara Tambolaka di Sumba Barat Daya.

Kalau Anda menyukai cara yang lebih “adventur”, jalur darat bisa menjadi pilihan. Anda bisa naik bus menuju Pelabuhan Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat. Kemudian lanjutkan dengan feri dari Pelabuhan Sape menuju Pelabuhan Waikelo di Sumba Barat Daya. Setelah itu, Anda bisa melanjutkan perjalanan ke Sumba Barat melalui jalur darat dengan menyewa mobil, naik bus, atau travel.

Sudah siap menjelajah Sumba?

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top